Jumat, 03 Mei 2013
ADAM MALIK (Diplomat, Mantan Menlu RI)
Politisi dan diplomat ulung ini terlihat sosoknya sebagai "tukang debat" nomor satu di berbagai meja perundingan. Tubuhnya tidak tinggi, agak gemuk, berkulit agak gelap. Rambutnya yang berminyak kerap disisir ke belakang hingga menonjolkan dahinya yang menampakkan kecerdasannya. Ia juga gemar memakai kopiah. Pada 1970-an, Adam Malik, tokoh itu, biasa dipanggil sebagai "Si Bung" dan "Si Kancil". Itu karena kelincahan pria kelahiran Kampung Keling, Pematangsiantar, 22 Juli 1917.
Anak ketiga dari 9 bersaudara pasangan pedagang kelontong Haji Abdul Malik dan Salamah ini mempunyai bakat diplomasi yang luar biasa. Penyerahan Irian Barat kepada Indonesia antara lain merupakan hasil perundingan rahasianya dengan delegasi Belanda di Virginia, Amerika Serikat, 1962. Ia pula yang diberi tugas oleh Soeharto untuk memulihkan keanggotaan Indonesia di PBB tahun 1967.
Pembayaran utang Indonesia, yang terakumulasi di masa Soekarno, untuk masa 30 tahun; juga bisa ditangguhkan. Reputasinya dalam dunia diplomasi membuat Si Bung terpilih menjadi Ketua Majelis Umum PBB pada tahun 1972 .
Kemampuan diplomasi Adam Malik tak lepas dari profesinya sebagai wartawan, yang ditekuninya sejak dekade 1930-an. Monumennya yang masih bisa dilihat saat ini adalah Kantor Berita Antara. Ia ikut mendirikan kantor itu pada 1937.
Meski begitu, Si Bung ini bukan cum a diplomat dan jumalis. Ia juga seorang politisi tulen, yang berperan sejak awal kemerdekaan Indonesia. Sejarah mencatat, bersama Sukarni dan Chaerul Saleh, ia menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok dan mendesak agar kemerdekaan Indonesia segera diproklamasikan.
Diplomator ini temyata juga suka mengoleksi berbagai barang, mulai dari keramik, patung, dan batu mulia. 5.000 lebih benda koleksinya telah dipamerkan dalam sebuah musem yang dikelola oleh istrinya, Nelly Adam Malik.
Adam Malik merupakan sosok otodidak yang reputasinya mendunia. Dia adalah satu di antara sedikit orang yang mampu menempatkan Indonesia ke dalam posisi terhormat dalam pentas politik dan diplomasi internasional.
(Biografi Singkat Seratus Tokoh
Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Indonesia di Abad 20. Windy A. dkk.)
Penerbit: NARASI
JI. Jawa D-10 Perum Nogotirto II
Yogyakarta 55292
Distributor:
PT. AGROMEDIA PUSTAKA
JI. Rajawali IV Blok HD-X No.3 Tangerang 15226
Kesehatan Masyarakat
A. Pendahuluan
Membicarakan kesehatan masyarakat tidak terlepas dari 2 tokoh metologi Yunani, yakni Asclepius dan Higeia. Berdasarkan cerita mitos Yunani tersebut Asclepius disebutkan sebagai seorang dokter pertama yang tampan dan pandai meskipun tidak disebutkan sekolah atau pendidikan apa yang telah ditempuhnya tetapi diceritakan bahwa ia telah dapat mengobati penyakit dan bahkan melakukan bedah berdasarkan prosedur-prosedur tertentu (surgical procedure) dengan baik.
Higeia, seorang asistennya, yang kemudian diceritakan sebagai isterinya juga telah melakukan upaya-upaya kesehatan. Beda antara Asclepius dengan Higeia dalam pendekatan / penanganan masalah kesehatan adalah, Asclepius melakukan pendekatan (pengobatan penyakit), setelah penyakit tersebut terjadi pada seseorang. Sedangkan Higeia mengajarkan kepada pengikutnya dalam pendekatan masalah kesehatan melalui “hidup seimbang”, menghindari makanan / minuman beracun, makan makanan yang bergizi (baik), cukup istirahat dan melakukan olahraga.
Dari cerita mitos Yunani, Asclepius dan Higeia tersebut, akhirnya muncul 2 aliran atau pendekatan dalam menangani masalah-masalah kesehatan. Kelompok atau aliran pertama cenderung menunggu terjadinya penyakit (setelah sakit), yang selanjutnya disebut pendekatan kuratif (pengobatan). Kelompok ini pada umumnya terdiri dari dokter, dokter gigi, psikiater dan praktisi-praktisi lain yang melakukan pengobatan penyakit baik fisik, psikis, mental maupun sosial.
Sedangkan kelompok kedua, seperti halnya pendekatan Higeia, cenderung melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit dan meningkatkan kesehatan (promosi) sebelum terjadinya penyakit. Kedalam kelompok ini termasuk para petugas kesehatan masyarakat lulusan-lulusan sekolah atau institusi kesehatan masyarakat dari berbagai jenjang.
Dalam perkembangan selanjutnya maka seolah-olah timbul garis pemisah antara kedua kelompok profesi, yakni pelayanan kesehatan kuratif (curative health care) dan pelayanan pencegahan atau preventif
(preventive health care). (Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.)
B. Definisi Kesehatan Masyarakat
- Menurut WHO, kesehatan masyarakat merujuk pada semua tindakan terorganisir (baik publik atau private) untuk mencegah penyakit, meningkatkan kesehatan, dan memperpanjang hidup antara penduduk secara keseluruhan. Kegiatannya bertujuan untuk menyediakan kondisi di mana orang bisa sehat dan fokus pada seluruh populasi, bukan pada pasien atau penyakit. Dengan demikian, kesehatan masyarakat terfokus pada sistem secara keeluruhan dan tidak hanya pemberantasan penyakit tertentu. (WHO: 2008)
- Menurut Prof. Umar Fahmi Achmadi,M.P.H., Ph. D, kesehatan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat atau komunitas dengan teknis berbasis wilayah, bersifat preventif dan promotif,ada keikutsertaan masyaraskat dalam upaya tersebut,pendekatan multidisiplin dan kemitraan atau partnership.
- Menurut Ikatan Dokter Amerika, AMA, (1948) mendefinisikan Kesehatan Masyarakat adalah ilmu dan seni memelihara, melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat.
- Menurut Winslow, adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, dan efisiensi melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk meningkatkan sanitasi lingkungan, kontrol infeksi di masyarakat, pendidikan individu tentang kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan medis dan perawatan, untuk diagnosa dini, pencegahan penyakit dan pengembangan aspek sosial, yang akan mendukung agar setiap orang di masyarakat mempunyai standar kehidupan yang kuat untuk menjaga kesehatannya.
C. Bidang Garapan dan Dasar Ilmu (Ontologi) Kesehatan Masyarakat
- Biostatistik dan Kependudukan
- Kesehatan Lingkungan
- Pendidikan Kesehatan dan Perilaku (Promosi Kesehatan)
- Administrasi Kebijakan Kesehatan
- Gizi Masyarakat
- Keselamatan dan Kesehatan Kerja
- Epidemiologi
- Kesehatan Reproduksi
D. Kegunaan, Aplikasi dan Tujuan Kesehatan Masyarakat (Aksiologi)
- Mengantarkan masyarakat dalam mencapai derajat kesehatan setinggi-tingginya (sehat holistik)
- Mengantar setiap individu dalam masyarakat mencapai sehat produktif, terbebas dari sakit, cacat fisik dan mental, serta sehat sosial dan ekonomi yang memungkinkan seseorang dapat hidup produktif
- Equity yaitu pemerintah yang adil berdasarkan kebutuhan (proporsional)
- Mengefektifkan program dan pelayanan mutu
- Efisiensi dalam pemanfaatan somber daya
- Multi sektor dan multi disiplin
- Mengacu pada human sustainable development
Nabi Isa A.S dalam Jajaran Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia
Pengaruh Nabi Isa terhadap sejarah
kemanusiaan begitu jelas dan begitu besar. Rasanya tak banyak orang yang
mempersoalkan apa sebab Nabi Isa berada di tempat hampir teratas dalam daftar
buku ini. Malahan, mungkin banyak orang bertanya-tanya kenapa Isa tidak berada
di tempat teratas.
Akan halnya kekristenan, tak adalah
kiranya masalahnya. Dalam perjalanan sang waktu tak syak lagi agama ini sudah
peroleh pemeluk lebih besar dari agama lain yang mana pun juga. Perlu ditegaskan
bukanlah perihal pengaruh dari pelbagai agama yang menjadi titik perhitungan di
buku ini, melainkan ihwal yang menyangkut pengaruh perorangan. Tidaklah seperti
Agama Islam, Agama Nasrani didirikan bukan oleh seorang melainkan dua -- Isa dan
St. Paul -- karena itu pengakuan jasa-jasa atas
perkembangan agama itu harus dibagi sama antara kedua tokoh itu.
Nabi Isa meletakkan dasar-dasar
pokok gagasan etika kekristenan termasuk pandangan spiritual serta ide pokok
mengenai tingkah laku.manusia. Sedangkan teologi Kristen dikelola dasar-dasarnya
oleh St. Paul. Isa mempersembahkan pesan-pesan spiritual sedangkan St. Paul
menambahkannya ke dalam bentuk pemujaan terhadap Isa. Lebih dari itu, St. Paul
merupakan penulis bagian-bagian penting Perjanjian Baru dan merupakan penganjur
pertama orang-orang agar memeluk Agama Nasrani pada abad pertama lahirnya agama
itu.
Isa terhitung berusia muda tatkala
"wafat" (lain halnya dengan Buddha atau Muhammad), dan yang ditinggalkannya hanya sejumlah
terbatas pengikut. Tatkala Isa mangkat, pengikutnya cuma terdiri dari sejumlah
kecil sekte Yahudi. Baru lewat tulisan-tulisan St. Paul dan kegigihan khotbahnya
yang tak kenal lelah, sekte kecil itu dirubah menjadi kekuatan dinamis dan
merupakan gerakan yang lebih besar, baik terdiri dari orang Yahudi maupun bukan.
Dari situlah-akhirnya- tumbuh menjadi salah satu agama besar dunia.
Akibat hal-hal itu sementara orang
beranggapan St. Paul-lah dan bukan Isa yang lebih layak
dipandang sebagai pendiri Agama Nasrani, karena itu tempatnya dalam daftar
urutan buku ini mesti lebih tinggi ketimbang Isa! Biarpun sulit dibayangkan apa
wujud kekristenan tanpa St. Paul, tapi sebaliknya juga amatlah jelas: tanpa Nabi
Isa, Agama Nasrani tak akan pernah ada samasekali.
Sebaliknya, tampak tak beralasan
menganggap Isa bertanggung jawab terhadap semua keadaan seperti penilaian
gereja-gereja Kristen serta pribadi-pribadi pemeluk Agama Nasrani kemudian,
khusus sejak Isa sendiri tidak setuju dengan sikap-sikap seperti itu. Di antara
mereka -misalnya perang agama antar mazhab-mazhab Nasrani, penyembelihan kejam
dan pemburuan terhadap orang Yahudi- merupakan kontradiksi dengan sikap dan
ajaran Isa. Rasanya tak beralasan menganggap bahwa perbuatan itu disetujui oleh
Isa.
Di samping itu walau ilmu
pengetahuan modern pertama kali tumbuh di negeri-negeri pemeluk Nasrani di Eropa
Barat tapi rasanya tidak kena kalau hal itu dianggap sebagai tanggung jawab Isa.
Dengan sendirinya tak seorang pun di antara para pemuka pemeluk Kristen
menafsirkan ajaran Isa sebagai suatu seruan untuk melakukan penyelidikan ilmiah
terhadap dunia dalam arti fisik. Yang terjadi justru sebaliknya:
berbondong-bondongnya masyarakat Romawi memeluk Agama Nasrani mengakibatkan
merosotnya baik dasar umum teknologi maupun tingkat umum minat terhadap ilmu
pengetahuan.
Bahwa ilmu pengetahuan kebetulan
tumbuh di Eropa sebenarnya suatu petunjuk adanya kultur yang diwariskan
turun-temurun yang selaras dengan jalan pikiran ilmiah. Ini samasekali tak ada
sangkut-pautnya dengan ajaran-ajaran Isa tapi berkat pengaruh rasionalisme
Yunani yang jelas tercermin dalam karya-karya Aristoteles dan Euclid. Adalah
perlu dicatat timbulnya ilmu pengetahuan modern bukanlah di masa jaya-jayanya
kekuasaan gerejani dan kesucian Kristen melainkan pada saat mulai menyingsingnya
renaissance, saat tatkala Eropa sedang mencoba memperbaharui warisan sebelum
Isa.
Kisah kehidupan Isa jika dikaitkan
dengan Perjanjian Baru tentulah sudah tidak asing lagi bagi para pembaca, karena
itu bisa membosankan jika dikunyah-kunyah lagi. Tapi, ada juga segi-segi yang
masih layak dicatat. Pertama, sebagian terbesar informasi yang kita peroleh
tentang kehidupan Isa tidak karu-karuan, simpang-siur tak menentu. Bahkan kita
tidak tahu siapa nama aslinya. Besar kemungkinan nama aslinya Yehoshua, sebuah
nama umum orang Yahudi (orang Inggris menyebutnya Yoshua). Dan tahun
kelahirannya pun tidaklah pasti, walaupun tahun 6 sebelum Masehi dapat dijadikan
pegangan.
Bahkan tahun wafatnya pun yang
mestinya diketahui dengan jelas oleh para pengikutnya, juga belum bisa
dipastikan hingga hari ini. Isa sendiri tidak meninggalkan karya tulisan
samasekali, sehingga sebetulnya segala sesuatu mengenai peri kehidupannya
berpegang pada penjelasan Perjanjian Baru.
Malangnya, ajaran-ajaran Isa
bertentangan satu sama lain dalam banyak pokok masalah. Matthew dan Lukas
menyuguhkan versi yang samasekali berbeda mengenai kata-kata akhir yang
diucapkan Isa. Kedua versi ini sepintas lalu tampak berasal dari kutipan-kutipan
langsung dari Perjanjian Lama.
Sesungguhnya bukanlah barang
kebetulan Isa mampu mcngutip dari Perjanjian Lama. Sebab, meskipun Isa pemuka
Agama Nasrani, dia sendiri sebetulnya seorang Yahudi yang taat. Sudah sering
sekali ditunjukkan bahwa Isa dalam banyak hal teramat mirip dengan nabi-nabi
kaum dari Perjanjian Lama dan dia terpengaruh secara mendalam dengan mereka.
Seperti halnya nabi-nabi, Isa memiliki pesona personalitas luar biasa yang
meninggalkan kesan mendalam dan tak terhapuskan begitu bertemu dengannya. Isa
seorang yang mempunyai daya kharisma dalam arti yang sesungguh-sungguhnya .
Berbeda sangat dengan Muhammad yang
menggenggam kekuasaan agama dan politik di satu tangan, Isa tidak yunya pengaruh
politis di masa hidupnya ataupun di abad berikutnya. (Kedua manusia itu memang
punya pengaruh tidak langsung dalam jangka panjang perkembangan politik). Isa
menyebar pengaruh sepenuhnya dalam ruang lingkup etika dan merupakan seorang
pemimpin spiritual.
Apabila peninggalan Isa semata-rnata
dalam kwalitas selaku pemuka spirituaI, tentu saja tepat jika orang
mempertanyakan sampai sejauh mana gagasan spiritualnya mempengaruhi dunia. Salah
satu sentral ajaran Isa tentu saja Golden Rule-nya. Kini, Golden Rule-nya itu
sudah diterima oleh banyak orang, apakah dia itu Nasrani atau bukan sebagai
patokan tingkah laku moral. Kita bisa saja berbuat tidak selalu atas dasar
patokan itu, tetapi sedikitnya kita mencoba menyelusuri relnya. Jika Isa benar
merupakan perumus pertama dari patokan dan petunjuk yang sudah diterima sebagai
hampir prinsip yang universal, bisa dipastikan dia layak didudukkan pada urutan
pertama daftar ini.
Tapi, fakta menunjukkan yang
namanya, Golden Rule itu sebenarnya sudah menjadi patokan yang jadi pegangan
Yudaisme, jauh sebetum Isa lahir. Pendeta Hillel, pemuka Yahudi yang hidup satu
abad sebelum Masehi secara terang-terangan mengatakan bahwa Golden Rule itu
adalah patokan utama Yudaisme.
Hal ini bukan saja diketahui oleh
dunia Barat melainkan juga Timur. Filosof Cina Kong Hu-Cu telah mengusulkan
konsepsi ini pada tahun 500 sebelum Masehi. Juga kata-kata seperti itu terdapat
di dalam Mahabharata, kumpulan puisi Hindu purba. Jadi, kenyataan menunjukkan
bahwa filosofi yang terkandung di dalam The Golden Rule diterima oleh hampir
tiap kelompok agama besar.
Apakah ini berarti Isa tak punya
gagasan etik yang orisinil? Bukan begitu! Pandangan yang bermutu tinggi dan
terang benderang di persembahkan dalam Matthew 5:43-44:
Kamu dengar apa yang dikatakan bahwa
kamu harus mencintai tetanggamu dan membenci musuhmu. Tapi kukatakan padamu,
kasihanilah mereka yang telah mengutukmu, berbuat baiklah kepada mereka yang
membencimu, berdoalah buat mereka yang menaruh dendam kepadamu dan
menganiayamu.
Dan kalimat sebelumnya berbunyi "
... janganlah melawan kejahatan. Jika mereka tampar pipi kananmu, berikan pipi
kirimu juga."
Kini, pendapat ini bukan merupakan
bagian dari Yudaisme di masa Isa dan bukan pula jadi bagian pegangan Agama-agama
lain. Sudah dapat dipastikan merupakan yang pernah terdengar. Apabila ide ini
dianut secara meluas, saya tidak ragu maupun bimbang sedikit pun menempatkan
Yesus dalam urutan pertama dalam daftar.
Tapi, kenyataan menunjukkan anutan
ide itu tidaklah meluas benar. Malahan, umumnya takkan bisa diterima. Sebagian
besar pemeluk Nasrani rnenganggap perintah "Cintailah musuhmu" hanyalah bisa
direalisir dalam dunia sempurna, tapi tidak bisa jalan selaku penuntun tingkah
laku di dunia tempat kita semua hidup sekarang ini. Umumnya ajaran itu tidak
dilaksanakan, dan pula tidak mengharapkan orang lain melakukannya. Kepada
anak-anak pun kita tidak memberi ajaran begitu. Ajaran Isa yang paling nyata
adalah tetap merupakan semacam ajaran yang bersifat kelompok dan secara mendasar
tak liwat anjuran yang teruji lebih dulu.
(Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart, 1978)
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat
Michael H. Hart, 1978)
Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat
Umar Ibn Al-Khattab R.A dalam Jajaran Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia
`Umar Ibn al-Khattab adalah khalifah
kedua, dan mungkin terbesar dari semua khalifah Islam. Dia sejaman namun lebih
berusia muda ketimbang Nabi Muhammad. Dan seperti juga Muhammad, dia kelahiran
Mekkah. Tahun kelahirannya tidak diketahui, tetapi menurut taksiran
tahun-586.
Asal-muasalnya `Umar Ibn al-Khattab
merupakan musuh yang paling ganas dan beringas, menentang Muhammad dan Agama
Islam habis-habisan. Tetapi, mendadak dia memeluk agama baru itu dan berbalik
menjadi pendukung gigih. (Ini ada persamaannya yang menarik dengan ihwal St.
Paul terhadap Kristen). `Umar Ibn al-Khattab selanjutnya menjadi penasihat
terdekat Nabi Muhammad dan begitulah dilakukannya sepanjang umur Muhammad.
Tahun 632 Muhammad wafat, tanpa
menunjuk penggantinya. Umar dengan cepat mendukung Abu Bakr sebagai pengganti,
seorang kawan dekat Nabi dan juga mertua beliau. Langkah ini mencegah ada
kekuatan dan memungkinkan Abu Bakr secara umum diakui sebagai khalifah pertama,
semacam "pengganti" Nabi Muhammad. Abu Bakar merupakan pemimpin yang berhasil
tetapi beliau wafat sesudah jadi khalifah hanya selama dua tahun. Tetapi, Abu
Bakr menunjuk `Umar jadi khalifah tahun 634 dan memegang kekuasaan hingga tahun
644 tatkala dia terbunuh di Madinah oleh perbuatan seorang budak Persia. Di atas
tempat tidur menjelang wafatnya, `Umar menunjuk sebuah panita terdiri dari enam
orang untuk memilih penggantinya. Dengan demikian lagi-lagi kesempatan adu
kekuatan untuk kekuasaan terjauh. Panitia enam orang itu menunjuk `Uthman selaku
khalifah ke-3 yang memerintah tahun 644-656.
Dalam masa kepemimpinan sepuluh
tahun `Umar itulah penaklukan-penaklukan penting dilakukan orang Arab. Tak lama
sesudah `Umar pegang tampuk kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Arab menduduki
Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam
pertempuran Yarmuk (636), pasukan Arab berhasil memukul habis kekuatan
Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun
kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Arab telah menguasai seluruh Palestina
dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun
639, pasukan Arab menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan
Byzantium. Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan
sempurna.
Penyerangan Arab terhadap Irak yang
saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah mulai bahkan sebelum
`Umar naik jadi khalifah. Kunci kemenangan Arab terletak pada pertempuran
Qadisiya tahun 637, terjadi di masa kekhalifahan `Umar. Menjelang tahun 641,
seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Arab. Dan bukan cuma itu:
pasukan Arab bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend
(642) mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia.
Menjelang wafatnya `Umar di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah
terkuasai sepenuhnya. Gerakan ini tidak berhenti tatkala `Umar wafat. Di bagian
timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak
terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.
Sama pentingnya dengan makna
penaklukan-penaklukan yang dilakukan `Umar adalah kepermanenan dan kemantapan
pemerintahannya. Iran, kendati penduduknya masuk Islam, berbarengan dengan itu
mereka memperoleh kemerdekaannya dari pemerintahan Arab. Tetapi Suriah, Irak dan
Mesir tidak pernah peroleh hal serupa. Negeri-negeri itu seluruhnya di-Arabkan
hingga saat kini.
`Umar sudah barangtentu punya
rencana apa yang harus dilakukannya terhadap daerah-daerah yang sudah
ditaklukkan oleh pasukan Arab. Dia memutuskan, orang Arab punya hak-hak istimewa
dalam segi militer di daerah-daerah taklukan, mereka harus berdiam di kota-kota
tertentu yang ditentukan untuk itu, terpisah dari penduduk setempat. Penduduk
setempat harus bayar pajak kepada penakluk Muslimin (umumnya Arab), tetapi
mereka dibiarkan hidup dengan aman dan tenteram. Khususnya, mereka tidak dipaksa
memeluk Agama Islam. Dari hal itu sudahlah jelas bahwa penaklukan Arab lebih
bersifat perang penaklukan nasionalis daripada suatu perang suci meskipun aspek
agama bukannya tidak memainkan peranan.
Keberhasilan `Umar betul-betul
mengesankan. Sesudah Nabi Muhammad, dia merupakan tokoh utama dalam hal
penyerbuan oleh Islam. Tanpa penaklukan-penaklukannya yang secepat kilat,
diragukan apakah Islam bisa tersebar luas sebagaimana dapat disaksikan sekarang
ini. Lebih-lebih, kebanyakan daerah yang ditaklukkan dibawah pemerintahannya
tetap menjadi Arab hingga kini. Jelas, tentu saja, Muhammadlah penggerak
utamanya jika dia harus menerima penghargaan terhadap perkembangan ini. Tetapi,
akan merupakan kekeliruan berat apabila kita mengecilkan saham peranan `Umar.
Penaklukan-penaklukan yang dilakukannya bukanlah akibat otomatis dari inspirasi
yang diberikan Muhammad. Perluasan mungkin saja bisa terjadi, tetapi tidaklah
akan sampai sebesar itu kalau saja tanpa kepemimpinan `Umar yang brilian.
Memang akan merupakan kejutan --buat
orang Barat yang tidak begitu mengenal `Umar-- membaca penempatan orang ini
lebih tinggi dari pada orang-orang kenamaan seperti Charlemagne atau Julius
Caesar dalam urutan daftar buku ini. Soalnya, penaklukan oleh bangsa Arab di
bawah pimpinan `Umar lebih luas daerahnya dan lebih tahan lama dan lebih
bermakna ketimbang apa yang diperbuat oleh Charlemagne maupun Julius Caesar.
(Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart,
1978)Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat
Nabi Muhammad SAW Manusia Paling Berpengaruh di Dunia
Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi
Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia
mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang
lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya
manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik
dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.
Berasal-usul dari keluarga
sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di
dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin
tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya
masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.
Sebagian besar dari orang-orang yang
tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan
dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat
perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota
Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu
merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan,
seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan
dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam
menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai
membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda
berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak
petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia.
Umumnya, bangsa Arab saat itu tak
memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah
kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari
merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang
Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia empatpuluh tahun,
Muhammad yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya dan
memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.
Selama tiga tahun Muhammad hanya
menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala
memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi
sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya,
pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke
Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi
kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.
Peristiwa hijrah ini merupakan titik
balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil
pengikut, dan di Medinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat
dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang
sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad
bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah dan Madinah.
Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Muhammad, kembali
ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari hidupnya dia menyaksikan
kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan
tatkala Muhammad wafat tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa
efektif seantero Jazirah Arabia bagian selatan.
Suku Bedewi punya tradisi
turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah
mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak
satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari
kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi,
Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada
keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan
penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timurlaut Arab
berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di baratlaut Arabia berdiri
Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai
pusatnya.
Ditilik dari sudut jumlah dan
ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran,
pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan
Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman
Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam
pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun
642.
Tapi, penaklukan besar-besaran --di
bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab--
itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan
Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari
situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak
kerajaan Visigothic di Spanyol.
Sepintas lalu orang mesti mengira
pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732,
dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang
telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang
Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang
Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad- telah mendirikan sebuah
empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai
Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia.
Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan
berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam.
Ternyata, tidak semua penaklukan
wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut
setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di
Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil
dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir
dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab seperti
halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar terus
dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan
penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India
sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan
faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru
itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan.
Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang
paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama
juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu
sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam
buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali
lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya
apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi
pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam
pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun
Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen
(sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St.
Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan
penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.
Sebaliknya Muhammad bukan saja
bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap
pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia "pencatat" Kitab Suci
Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari
Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama
Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan
tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan
pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada
wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari
ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran
bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum
Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya.
Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St.
Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut
agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah
kemanusiaan.
Lebih jauh dari itu (berbeda dengan
Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta
menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan
bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan
sepanjang waktu.
Dari pelbagai peristiwa sejarah,
orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari
seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan
mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar
tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan
yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad dan tak ada
alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa
Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di
abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini,
walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah
bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh
bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan
Ini jelas menunjukkan beda besar
dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga
Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan
Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan.
Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa
Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah
ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan
terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara
tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang
bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan
mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri
berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam
sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 - 1974. Sebaliknya bukanlah
barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil
langkah embargo minyak.
Jadi, dapatlah kita saksikan,
penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan
penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya
menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi
yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam
arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.
(Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah
Michael H. Hart,
1978)Terjemahan H. Mahbub Djunaidi, 1982
PT. Dunia Pustaka Jaya
Jln. Kramat II, No. 31A
Jakarta Pusat
Langganan:
Postingan (Atom)